Perkenalkan, ini adalah ibuku. Namanya Ibu Asri Wulandari.
Dia yang selalu aku ceritakan dalam blog ini.
Dia yang selalu menorehkan luka sejak aku kecil. Dia mulai mencoba menginggalkan kami sekeluarga ketika aku kelas 3 sd.
Dia menyelesaikan Cinta Lama Belom Kelarnya dengan Nurahman yang sekarang menjabat sebagai Kepala Pusat Perencanaan Tenaga Kerja di Sekjen Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. Banyak kejadian buruk yang aku alami sejak ibuku berhubungan dengan Nurahman.
Ketika tahun 2007, ibuku dan aku pernah terlibat pertengkaran hebat di kamar kost ku di Yogyakarta. Ketika itu, ibuku yang katanya menyayangi aku bisa mengatakan "Kamu itu dari dulu udah banyak orang tua yang bilang, kamu harusnya tidak usah lahir. Kamu yang menyebabkan perceraian ibumu dengan bapakmu. Kamu dari kecil udah menghabiskan banyak uang. Asal kamu tau kamu itu cuma bawa sial.." dan banyak kata - kata menyakitkan lainnya.
Entah mengapa sejak dulu aku dan ibuku jarang sekali akur. Dia pun pernah memukuli aku bersama dengan adik ku dan pacarnya, seperti yang aku ceritakan pada tulisan lalu. Inilah kenyataanya ibuku.
Yang ini namanya Nurahman, salah satu pelayan publik yang saya kira dia mungkin eselon 2. Sejak ada orang ini, aku dan ibuku tidak lagi akur. Pernah suatu ketika ibuku meminta ijin padaku untuk menikah lagi, dengan pria ini. Waktu itu aku masih duduk dibangku SMA. Pria ini sudah beristri dan memiliki cucu. Dia pernah memutar balikkan semua kata kata yang dikatakan bapakku, atau dikatakan ibuku.
Yang kiri adalah adikku, Agnes Widyasari. Kami tidak pernah dekat sejak aku tinggal di Jogja. Ketika bertemu, yang dia ingat hanyalah kejelekanku. Kejelekanku yang pernah memukulnya sampai berdarah, ketika kecil. Dendam itu dibawanya sampai sekarang. Dia juga ikut membantu ibuku untuk mengikatku ketika aku dipukuli ibuku.
Yang kanan adalah kakak ku, Andri Wicaksono. Orang yang katanya akan menjadi orang pertama membelaku kalau sampai aku di lukai oleh Hassan. Pada nyatanya, dialah orang pertama yang menggebu - gebu menyalahkan aku, dan mau menghajar teman teman yang dekat padaku, setelah aku menikah. Dia bukan lagi orang yang membelaku. Dia juga tidak pernah mengerti kenapa adiknya begini.
Ini dia ayahku. Anton Murnihardo, seorang kepala keluarga yang aku rasa tidak bisa melindungi aku. Dia tidak pernah mau membelaku, dan melindungi aku ketika aku membutuhkan. Buktinya? Ketika aku dipukuli ibuku, adikku dan pacarnya, dia hanya bisa melihatku. Tanpa melakukan apa apa. Dia tidak berusaha membelaku, walaupun aku mengatakan "Pa... aku sesak, ga bisa nafas. Aku masih bisa diajak bicara baik baik. Bukan begini caranya.." Kenapa aku bicara seperti itu?
Ketika itu, posisi wajahku menghadap ke lantai, ibuku duduk di lantai tepat depan kepalaku sambil sesekali menjambak dan memukuliku. Adik ku di samping kanan ku, beruaha mengikatku. Dan pacarnya adikku? Dia tepat berada diatas punggungku, sambil menekannya dengan dengkulnya.
Ayahku mungkin terlalu takut untuk membelaku. Atau memang tidak mau ikut campur urusanku. Aku hanya berharap dalam hati.
Inilah Dwiki Meinadi, mahasiswa ITB yang sama sekali bukan keluargaku. Dia hanya pacar adikku. ADIKKU. Tapi dia berani membantu ibu dan adikku untuk memukuli aku. Tanpa rasa bersalah dan berdosa, dia masih suka menyapaku melalui Facebook. Dia juga menamparku ketika itu. Tapi tidak ada sedikit kata meminta maaf yang keluar dari mulutnya.
Mereka semua adalah orang yang masih menyisakan luka dihatiku. Hanya sedikit cerita tentang mereka yang bisa aku ceritakan saat ini. Dan suatu hari nanti aku akan melanjutkannya.
Dia yang selalu aku ceritakan dalam blog ini.
Dia yang selalu menorehkan luka sejak aku kecil. Dia mulai mencoba menginggalkan kami sekeluarga ketika aku kelas 3 sd.
Dia menyelesaikan Cinta Lama Belom Kelarnya dengan Nurahman yang sekarang menjabat sebagai Kepala Pusat Perencanaan Tenaga Kerja di Sekjen Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. Banyak kejadian buruk yang aku alami sejak ibuku berhubungan dengan Nurahman.
Ketika tahun 2007, ibuku dan aku pernah terlibat pertengkaran hebat di kamar kost ku di Yogyakarta. Ketika itu, ibuku yang katanya menyayangi aku bisa mengatakan "Kamu itu dari dulu udah banyak orang tua yang bilang, kamu harusnya tidak usah lahir. Kamu yang menyebabkan perceraian ibumu dengan bapakmu. Kamu dari kecil udah menghabiskan banyak uang. Asal kamu tau kamu itu cuma bawa sial.." dan banyak kata - kata menyakitkan lainnya.
Entah mengapa sejak dulu aku dan ibuku jarang sekali akur. Dia pun pernah memukuli aku bersama dengan adik ku dan pacarnya, seperti yang aku ceritakan pada tulisan lalu. Inilah kenyataanya ibuku.
Yang ini namanya Nurahman, salah satu pelayan publik yang saya kira dia mungkin eselon 2. Sejak ada orang ini, aku dan ibuku tidak lagi akur. Pernah suatu ketika ibuku meminta ijin padaku untuk menikah lagi, dengan pria ini. Waktu itu aku masih duduk dibangku SMA. Pria ini sudah beristri dan memiliki cucu. Dia pernah memutar balikkan semua kata kata yang dikatakan bapakku, atau dikatakan ibuku.
Yang kiri adalah adikku, Agnes Widyasari. Kami tidak pernah dekat sejak aku tinggal di Jogja. Ketika bertemu, yang dia ingat hanyalah kejelekanku. Kejelekanku yang pernah memukulnya sampai berdarah, ketika kecil. Dendam itu dibawanya sampai sekarang. Dia juga ikut membantu ibuku untuk mengikatku ketika aku dipukuli ibuku.
Yang kanan adalah kakak ku, Andri Wicaksono. Orang yang katanya akan menjadi orang pertama membelaku kalau sampai aku di lukai oleh Hassan. Pada nyatanya, dialah orang pertama yang menggebu - gebu menyalahkan aku, dan mau menghajar teman teman yang dekat padaku, setelah aku menikah. Dia bukan lagi orang yang membelaku. Dia juga tidak pernah mengerti kenapa adiknya begini.
Ini dia ayahku. Anton Murnihardo, seorang kepala keluarga yang aku rasa tidak bisa melindungi aku. Dia tidak pernah mau membelaku, dan melindungi aku ketika aku membutuhkan. Buktinya? Ketika aku dipukuli ibuku, adikku dan pacarnya, dia hanya bisa melihatku. Tanpa melakukan apa apa. Dia tidak berusaha membelaku, walaupun aku mengatakan "Pa... aku sesak, ga bisa nafas. Aku masih bisa diajak bicara baik baik. Bukan begini caranya.." Kenapa aku bicara seperti itu?
Ketika itu, posisi wajahku menghadap ke lantai, ibuku duduk di lantai tepat depan kepalaku sambil sesekali menjambak dan memukuliku. Adik ku di samping kanan ku, beruaha mengikatku. Dan pacarnya adikku? Dia tepat berada diatas punggungku, sambil menekannya dengan dengkulnya.
Ayahku mungkin terlalu takut untuk membelaku. Atau memang tidak mau ikut campur urusanku. Aku hanya berharap dalam hati.
Inilah Dwiki Meinadi, mahasiswa ITB yang sama sekali bukan keluargaku. Dia hanya pacar adikku. ADIKKU. Tapi dia berani membantu ibu dan adikku untuk memukuli aku. Tanpa rasa bersalah dan berdosa, dia masih suka menyapaku melalui Facebook. Dia juga menamparku ketika itu. Tapi tidak ada sedikit kata meminta maaf yang keluar dari mulutnya.
Mereka semua adalah orang yang masih menyisakan luka dihatiku. Hanya sedikit cerita tentang mereka yang bisa aku ceritakan saat ini. Dan suatu hari nanti aku akan melanjutkannya.





Reacties
Een reactie posten