Malam ini bercerita sedikit tentang cinta yang saya alami. Cinta masa SMP yang kata orang adalah cinta monyet. Ternyata masih saya rasakan setelah 10 tahun lebih tidak bertemu. Pada awalnya kami hanya menjalani kisah pertemanan biasa dengan teman lainnya. Antara kami berdua memang terlihat layaknya orang pacaran sejak awal. Tapi sampai kami dipisahkan karena kesibukan, kami tidak pernah pergi jauh dari sebatas teman. Ketika dipisahkan, masih banyak doa untuknya. Masih banyak jejak yang memberikan makna berarti darinya untuk hidupku. Aku pun mengimani setiap detik yang pernah kami lalui dikehidupanku, secara sadar atau tidak sadar. Melihatnya bahagia diluar sana, sudah cukup bagiku.
Sampai akhirnya beberapa bulan lalu kami dipertemukan di sebuah gereja. Gereja yang sangat tidak munggkin bagiku untuk menjangkaunya. Tapi lain bagi keinginan Tuhan. Bagaimana perlakukan kami memperlakukan satu sama lain pun masih sama. Apa yang kami lakukan selama kami tidak bertemu, kini seperti disatukan kembali. Kami masih saling memperhatikan satu sama lain, mungkin sebatas basa basi. Yang jelas rasa yang aku miliki seperti ada kembali. Aku tetap tidak bisa mengatakan jujur,seperti dulu. Untuk bisa melihatnya, kembali berbincang dengannya, melakukan kegiatan gereja bersamanya,itu sudah lebih dari cukup. Kami harus melayani dalam Gereja. Itu sudah suatu bahagia bagiku.
Dia mengakui bahwa dulu dia pernah memiliki perasaan padaku. Tapi maaf, aku masih terlalu pengecut untuk mengakuinya. Aku hanya mampu menyembunyikan perasaanku dibalik semua perhatianku padanya. Maaf aku tak mampu membayangkan bahwa aku akan kehilangan kamu setelahnya. Aku mampu mengasihimu dan membiarkan kamu bersama orang lain, tapi untuk menghadapi bahwa aku harus jauh darimu lagi, itu yang aku tak bisa. Lebih baik aku tau bahwa kamu masih disana, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku,dan kita masih bertemu untuk sekedar menceritakan perjalananmu yang aku lewatkan.
Tapi ternyata Tuhan mmenginginkan hal yang lain. Tuhan ingin ketika aku melayani, bebas dari beban. Bebas dari rasa yang aku sembunyikan. Bebas dari setiap dosa yang tidak aku akui. Perlahan demi perlahan aku meminta maaf pada semua orang yang perbah aku sakiti, pernah aku bohongi. Tapi masih ada dua hal yang tidak bisa aku lakukan, memaafkan dan melepaskan kisah ku dengan keluargaku, juga mengakui apa yang aku simpan darimu.
Aku menyayangimu tapi tidak ingin memilikimu. Akhirnya bisa aku ucapkan dimalam ini. Dimalam ketika kita memiliki waktu bersama untuk bercerita. Inilah cinta yang aku miliki untukmu, aku mengasihimu dan tidak sedikitpun menginginkan kamu bersama ku. Terlepas dari kamu sudah memiliki seseorang atau tidak, aku tidak menginginkannya. Bukan karena takdir Tuhan, tapi karena aku tidak akan siap menerima kamu dalam hidupku. Rasa takutku akan perintah Tuhan untuk tidak memiliki milik orang lain yang membentukku begini. Karena kasih ku hanya mampu memberikan, aku belum bisa untuk menerima. Maafkan aku yang baru mengatakannya malam ini setelah 12 tahun kita lewati. But you deserve to know.
Disinilah aku mengerti bahwa cinta yang sesungguhnya ternyata cinta yang sudah mampu mengasihi tanpa harapan apa pun dan tanpa memiliki keinginan untuk bisa memiliki.
Untuk dia yang 12 tahun dalam hidupku, semoga kita akan tetap begini, seturut kehendak Tuhan.
Reacties
Een reactie posten