Sekarang jam 09:46 waktu saya mulai menulis ini.
Pagi ini, aku bangun jam 7.15. Tidak lama handphone ku berdering, ayah ku yang menelfon.
"Halo.. iya be.." (aku memanggilnya babe ala orang Betawi)
"Udah bangun kowe?"
"Udah"
"Oh kirain belom bangun..."
"Ooh udah.. kenapa?"
"Nggak, ngecek aja. Tadi itu ibumu telfon trus langsung marah marah.. tapi kamu ga usah nanya balik ke ibumu.. ga usah ngomong lagi."
"Ooh iya nggak.. emang dia ngomong apa?"
"Ya tau tau telfon trus ngomel bilang katanya kamu ga bsa dikasi tau, yang mustinya ngasih tau ya bapak.. ini cuma cerita aja loh ya.."
"Emang sia ngomong apa sih..?" Tanya ku makin penasaran.
"Ya pokoknya gitulah.. kayak ga tau ibumu aja.. dia yang nelfon sndiri, dia yang nutup sndiri. Skarangkan bapak mu bsa apa klo misal ngomong juga. Dibilang bapak yang provokasi, lah orang anaknya udah gede, udah punya pemikiran sendiri."
"Hahaha ya udah lah. Namanya juga orang gila.."
"Iya lah yang waras ngalah.. daripada emosi.."
Begitu percakapan kami.
Lalu tidak lama kemudian, aku mendengar ada yang mengetuk pintu rumah ku, aku bangun dari tempat tidur ku dan keluar. Ternyata ibu ku datang. Seingatku, kemarin dia pergi ke lampung pesawat Garuda jam 5 pagi, katanya. Tapi kenapa dia ada disini?
"Halo.. iya be.." (aku memanggilnya babe ala orang Betawi)
"Udah bangun kowe?"
"Udah"
"Oh kirain belom bangun..."
"Ooh udah.. kenapa?"
"Nggak, ngecek aja. Tadi itu ibumu telfon trus langsung marah marah.. tapi kamu ga usah nanya balik ke ibumu.. ga usah ngomong lagi."
"Ooh iya nggak.. emang dia ngomong apa?"
"Ya tau tau telfon trus ngomel bilang katanya kamu ga bsa dikasi tau, yang mustinya ngasih tau ya bapak.. ini cuma cerita aja loh ya.."
"Emang sia ngomong apa sih..?" Tanya ku makin penasaran.
"Ya pokoknya gitulah.. kayak ga tau ibumu aja.. dia yang nelfon sndiri, dia yang nutup sndiri. Skarangkan bapak mu bsa apa klo misal ngomong juga. Dibilang bapak yang provokasi, lah orang anaknya udah gede, udah punya pemikiran sendiri."
"Hahaha ya udah lah. Namanya juga orang gila.."
"Iya lah yang waras ngalah.. daripada emosi.."
Begitu percakapan kami.
Lalu tidak lama kemudian, aku mendengar ada yang mengetuk pintu rumah ku, aku bangun dari tempat tidur ku dan keluar. Ternyata ibu ku datang. Seingatku, kemarin dia pergi ke lampung pesawat Garuda jam 5 pagi, katanya. Tapi kenapa dia ada disini?
Dia datang dengan membawa sekantong baju milikku. Sejak tidak ada asisten, aku memang nitip untuk di setrikakan di rumahnya, karena dia punya asisten yang setiap hari datang. Feelingku ga enak.. tapi tetap aku persilahkan dia masuk. Begitu masuk dia mulai dengan ocehan paginya..
"Kamu tuh masih ya nulis nulis di internet tentang Eki, dek Widya.. ngapain? Itu kan bikin malu begitu.."
Ooh, pembicaraan itu lagi rupanya. Dia memper masalahkan tentang blog ku ini.
"Itu semua anak anak ITB anak anak SMA 68 baca semua loh blog mu itu. Adek mu sampe di omongin sama temen temennya Ekki, kamu bikin malu adekmu.."
"Ohya? Kenapa? Ekki (alias Dwiki Meinadi anak ITB memang) memang salah kok, ngapain dia ikut mukulin dan jambak kepalaku? Itu kan salahnya dia knapa ikutan"
"Ohya? Kenapa? Ekki (alias Dwiki Meinadi anak ITB memang) memang salah kok, ngapain dia ikut mukulin dan jambak kepalaku? Itu kan salahnya dia knapa ikutan"
Dikepalaku lalu seperti merekonstruksi ulang kejadian 2011 itu.
"Kamu kayak gitu bisa dilaporin polisi loh.. kasian adek mu, dia punya masa depan, nanti kan kalo masuk kerja itu kan smua orang bakalan baca.."
"Ooh, emang cuma adek ku doank yang punya masa depan? Aku nggak? Emang sih ya lu ga pernah mikirin masa depan gw. Klo mau laporin polisi, silahkan! Emang cuma dia doank yang punya backingan polisi? Trus kenapa? Mreka aja ga pernah dateng minta maaf. Lagian apa yang gw tulis disini itu true story. Emang kenyataannya Ekki ikut mukulin."
"Enggak dia itu ga mukulin. Dia itu ngebantuin ibu karena di pukulin kamu. Eki sama Widya itu ngebantuin ibu karena kamu mukulin ibu.. Mana apa buktinya Eki mukulin?"
"Oh, gw punya foto foto emang dia mukulin." Lalu aku pun segera ambil handphone dan membuka file foto itu.
"Tapi kan ga ada sidik jari Ekki disitu. Kalo foto jayak gitu ibu juga bisa laporin." Disitu emosiku mulai naik..
"Ooh dasar lu ya.. emang cari gara gara ya.. itu urusan gw. Gw mau taro dimana kek ceritanya. Toh juga emang gitu kenyataannya.. kalo pun gitu, biar Eki yang dateng ngomong sama gw. Dia aja ga pernah ada minta maaf sama sekali apa apa setelah kjadian itu."
Lalu dia bilang.. "lhoh ngapain minta maaf, dia ga salah. Kamu yang salah, kamu yang mukulin ibunya. Eki itu ngebantuin. (Wah otaknya kebalik nih, gila juga ngebantuin kok ngebantuin mukulin orang dan ga minta maaf itu gak apa apa, pikirku.) kenyataan apa? Kamu yang suka memutar balikkan fakta.. kamu yang suka bilang yang nggak nggak. Kamu yang mau bunuh ibu, ibu di cutter di pukulin.."
Lalu aku menangis, bisa bisa nya dia bilang seperti itu. Apa dia lupa? 2007 ngomong apa.. langsung aku makin marah "hah? Gak kebalik, ada juga elu yg mau bunuh gw dari dulu.. elu sndiri yang bilang 2007 di kamar kost gw, elu lupa ya.. lu sndiri yang mukulin gw.."
Trus nyokap gw berkelit dan mengalihkan pembicaraan. "Kamu sama persis ya sama Anton (my babé) sama kayak bapak mu. Kamu sudah diracuni sama bapakmu untuk menghancurkan ibu dan dek widya.. kamu memang sengaja kan.."
Karena sudah geram dan takut emosi sampai memukulnya, aku mengusirnya keluar dari rumahku. Aku tau kalau sampai aku memukulnya, berarti dia akan melaporkan ke polisi lagi. Dengan berbagai macam cara dia tidak mau keluar dari rumahku. Menutup pintu rumahku, berjalan ke ruangan lain, mengunci rumahku. Aku bilang berkali kali.. untuk keluar, sampai aku mendorongnya dia tetap tidak mau.
Disisi lain aku mencoba menelfon Tante Tante ku, mencari pertolongan. Agar ada orang yang tau bahwa kami bertengkar. Agar aku tidak lagi disalahkan dan dianggap memutarbalikkan fakta.
"Kamu itu harusnya sadar, jangan mau dirusak sama Anton. Jangan kamu ngerusak masa depan adekmu, memang ibu tau ya niat mu itu mau menghancurkan ibu dan dek Widya.. nanti kalau udah kamu dan Anton bisa tertawa kan. Iya kan?"
Gila. Aku merasa stress sekarang. Orang ini, walaupun ibuku sendiri aku merasa dia gila dan pandai memotivasi orang agar emosi dan depresi. Dia sering ikut pelatihan motivasi, tapi siapa pelatihnya yang membuat dia jadi salah begini? Mario Teguh, Tung Desem Waringin, dari John Robert Power, semua pernah dia sebutkan karena telah mengikuti pelatihannya. Cara komunikasi yang dia lakukan dalah menghancurkan mental orang, bikin orang down dan emosi.
"Jangan salahkan aku kalau sampai aku pukul ya.. lu udah bikin gw emosi.. gila lu yaa!"
"Pukul aja, jadi tinggal lapor polisikan.. gampang kan?"
Aku menelfon beberapa orang mencari bantuan. Aku menelfon ayah ku sambil menangis "Pa kalau sampai aku mukul ini karena dia sudah bikin aku emosi. Pak tolong pak.. aku sudah ga tahan perempuan ini gila.. dia pintar mainkan emosi orang.."
Lalu telfon di tutup. Ibuku tetap melanjutkan ceramah motivasi yang bisa saja membuat mu memukulnya.
"Udah keluar dari rumah gw,keluar, keluar sekarang" ini kesekian kalinya saya memintanya keluar dari rumah ini.
Handphone nya berdering. Sepertinya kakak ku menelfon, kakak ku menyuruhnya pulang. Tapi dia mengatakan "Ga tau kenapa dia nangis nangis sendiri. Tau tuh kenapa.. Ini liat aja nih, ibunya mau dipukul dari tadi..."
Lalu aku berteriak "gw mukul karena gw emosi, lu kalo ngomong mulutnya ga dijaga.. pergi dari rumah gw.. pergi!!!"
Entah apa yang dia katakan terakhir, lalu aku memukul wajahnya dengan gaya menampar. Karena kesal. Lalu dia ngomong "nah udahkan, kamu pukulin ibu tinggal lapor polisi. Kalo ini ada buktinya."
Langsung aku makin marah dan menahannya untuk keluar. Benar yang aku pikirkan. Setelah aku pukul baru dia mau keluar. Ba***** benar orang ini. Aku menahannya,dia berlari ke pintu, aku menarik bajunya. Tanggan ku satu lagi sibuk mencari nomor telfon bantuan, ayahku jelas tidak mungkin dia ada di jogja.. yang lain? Aku tidak tahu. Dia akhirnya mencapai pintu luar rumahku, aku menahannya masih dengan menariknya. Tarik menarik masih terjadi, beberapa kali dia berhasil masuk kedalam rumah, tapi karena berat badannya lebih berat dari beratku, aku tidak berhasil membawanya masuk.
Dia berteriak "pak tolong pak.. tolong.." sambil emosi aku memukul wajahnya beberapa kali, menjambak rambutnya dan memukul lagi. Aku emosi. Aku sudah ga tahan dibegitukan terus. Kenapa tidak ada yang menolongku??
Spontan beberapa tetangga ku keluar dan menghampiri rumahku. Sambil menanggis aku menjerit "sialan lu ya emang, dari tadi gw usir usir gw suruh pulang lu ga mau. Lu emang nunggu kan biar gw mukul lu duluan, nunggu gw emosi biar lu lunya alasan lapor polisi. An**** lu ya emang.. ba***** lu ya.." lalu aku menangis meratap "pak, dia ini dari tadi saya usir karena ganggu saya, dia sengaja bikin saya emosi.. dari tadi ga mau keluar.."
Spontan beberapa tetangga ku keluar dan menghampiri rumahku. Sambil menanggis aku menjerit "sialan lu ya emang, dari tadi gw usir usir gw suruh pulang lu ga mau. Lu emang nunggu kan biar gw mukul lu duluan, nunggu gw emosi biar lu lunya alasan lapor polisi. An**** lu ya emang.. ba***** lu ya.." lalu aku menangis meratap "pak, dia ini dari tadi saya usir karena ganggu saya, dia sengaja bikin saya emosi.. dari tadi ga mau keluar.."
Bapak bapak yang sekarang sudah dirumahku pun menyuruhnya keluar lalu dia bilang "saya dipukulinn saya ..."
Aku sudah tidak mendengarnya karena aku jatuh hampir pingsan, jantung ku sakit. Sakit sekali menusuk didada ku. Aku terjatuh didepan rumahku dengan posisi telentang. Lemas dan tidak mampu bergerak. Badan ku gemetar, nafas ku sesak. Yang aku dengar seorang bapak berkata "ini jatuh ini gimana bu?"
Aku sudah tidak mendengarnya karena aku jatuh hampir pingsan, jantung ku sakit. Sakit sekali menusuk didada ku. Aku terjatuh didepan rumahku dengan posisi telentang. Lemas dan tidak mampu bergerak. Badan ku gemetar, nafas ku sesak. Yang aku dengar seorang bapak berkata "ini jatuh ini gimana bu?"
Mau tau jawaban ibuku? "Udah pak biarin aja, ga usah di apa apain, biarin aja disitu.."
Bagaimana tanggapan mu?
Bagaimana tanggapan mu?
Aku digotong oleh bapak itu.. aku rasa ibuku tidak membantunya sampai iya berkata "tolong bu angkat kakinya. Angkat kakinya"
Mereka memasukkan ku dan meletakkan aku di lantai, dikamarku. Mereka meninggalkan aku pergi.
Aku masih bisa mendengar ibuku berbicara seperti bengadu pada bapak itu. Dia menjelek jelekkan aku, aku emosi. Ingin rasanya aku bergerak keluar. Aku tidak mampu bergerak, nafasku habis. Aku coba mengangkat tubuhku dengan tanggan ku, sedikit merangkak tapi ga bisa. Aku hanya mampu meletakkan badan ku diatas lantai,aku butuh obat, aku butuh oksigen. Aku sempat tidak sadarkan diri beberapa waktu, aku coba merangkak ke kemar belakang. Ada oksigen dsitu, aku lalu mengambil obat. Aku memasang oksigen ku sendiri, merangkak dan menghirup udara dari oksigen itu. Aku minum obat dan sedikit tenang.
Aku masih bisa mendengar ibuku berbicara seperti bengadu pada bapak itu. Dia menjelek jelekkan aku, aku emosi. Ingin rasanya aku bergerak keluar. Aku tidak mampu bergerak, nafasku habis. Aku coba mengangkat tubuhku dengan tanggan ku, sedikit merangkak tapi ga bisa. Aku hanya mampu meletakkan badan ku diatas lantai,aku butuh obat, aku butuh oksigen. Aku sempat tidak sadarkan diri beberapa waktu, aku coba merangkak ke kemar belakang. Ada oksigen dsitu, aku lalu mengambil obat. Aku memasang oksigen ku sendiri, merangkak dan menghirup udara dari oksigen itu. Aku minum obat dan sedikit tenang.
Tubuhku berlumuran tanah, bahkan sampai saat aku menulis ini.
Untuk Dwiki Meinadi yang katanya udah putus sama adekku Agnes Widyasari, coba selesaikan masalahmu sendiri. Jangan suruh orang lain atau marah dengan orang. Kamu yang ikut ibu dan adek saya untuk memukuli saya, kalau sampai kamu tidak terima, itu perbuatan kamu sendiri. Tidak terimalah pada perbuatan mu sendiri, maka itu pikirkan sebelum kamu melakukan. Pembelaan mu didepan saya ga ada gunanya, biar bagaimana pun kamu tidak berhak ikut campur apalagi sampai ikut memukuli saya.
Untuk semua anak ITB dan SMA 68 yang kenal dengan Eki & Agnes, kalian bisa baca dan kalian yang bisa renungkan. Gunakan pikiran, logika dan hati nurani kalian dalam melihat masalah.
Reacties
Een reactie posten