Diawal tahun kuliah ku, aku bertemu dengan salah satu teman. Entah kenapa aku pun sempat cerita tentang keluargaku. Ahh.. Aku merasa salah cerita, semoga aku ga salah.
Aku ga berharap apa apa dari dia. Tapi aku mendapatkan pelajaran dari dia. Sekian lama aku merenungkan semua sikap, kelakuan dan perkataan temanku itu. Ahh.. Semuanya membuat ku bimbang.
Sangat tidak adil memang ketika aku bisa menerima dia yang hanya seorang teman, tapi aku tak bisa menerima ibuku yang melahirkan aku dan merawatku dari kecil.
Ke bimbangan, kesakitan ketakutan dan kerinduan, itulah yang ku rasakan.
Kurang lebih satu sampai satu setengah tahun aku memikirkannya, tiba tiba ibuku datang setelah aku operasi usus buntu tahun lalu. Hubungan ku tak begitu saja membaik setelah dia meminta maaf padaku. Masih ada rasa sakit benci dan perih di hati ini. Sikapnya membuat ku ragu untuk memaafkannya.
Rasa benci bercampur tangis ketika membuang semua pemberian darinya. Ku berlari kekamar sambil menahan bekas operasiku yang masih perih, tapi tak seberapa perih dibanding hati ini.
Air mata ini mengalir deras, ada rasa rindu disana tapi ku tahu, benci ku mampu mengalahkan rindu.
"aku bisa menerima perbedaan diantara aku dan temanku, tapi kenapa tidak begitu dengan ibuku?"
Lebaran tahun ini, aku bisa mengucapkan dengan mudahnya kepada temanku
"Btw minal aidzin walfaidzin ya.. Mohon maap lahir n batin"
Mudah skali aku mengucapkannya, walau sekedar chatting. Tapi untuk ibuku, penuh dengan air mata dan rasa sakit hanya untuk sekedar mengetik sms. Sakit.
Hingga akhirnya aku tak jadi kirim sms.
Belum satu bulan berlalu dari Bulan Ramadhan, bulan yang aku bertemu dengan temanku lagi dan mengucapkan Selamat Idul Fitri. Aku didekatkan padanya. Semakin hari dekat dengannya membuatku semakin belajar, bagaimana memperlakukan orang. Bagaimana bisa menerima kekurangan dan kelebihan, bagaimana bisa bersabar menghadapi orang, bagaimana aku bisa mau mengerti. Semua yang aku pelajari darinya, aku sinkronasikan dengan relasiku dan ibuku yang saat ini memburuk lagi. Sudah 3 minggu aku tak dirumah.
Dia pernah mencoba menanyakan tentang hubunganku dan ibuku. Aku berfikir, dia pasti ingin tahu banyak tentang aku dan keluargaku, tapi dia menghentikannya begitu saja. Aku rasa dia juga tau kalau aku gampang terluka.
Tapi jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku mengenalnya, membuatku semakin belajar tentang arti keselarasan hidup, dan memaafkan ibuku.
Dan aku hampir gila karnanya..
Sebab itulah, sulit bagiku untuk menerima mu lagi..
Send from My Nokia E71 device with Axis World Service.
Aku ga berharap apa apa dari dia. Tapi aku mendapatkan pelajaran dari dia. Sekian lama aku merenungkan semua sikap, kelakuan dan perkataan temanku itu. Ahh.. Semuanya membuat ku bimbang.
Sangat tidak adil memang ketika aku bisa menerima dia yang hanya seorang teman, tapi aku tak bisa menerima ibuku yang melahirkan aku dan merawatku dari kecil.
Ke bimbangan, kesakitan ketakutan dan kerinduan, itulah yang ku rasakan.
Kurang lebih satu sampai satu setengah tahun aku memikirkannya, tiba tiba ibuku datang setelah aku operasi usus buntu tahun lalu. Hubungan ku tak begitu saja membaik setelah dia meminta maaf padaku. Masih ada rasa sakit benci dan perih di hati ini. Sikapnya membuat ku ragu untuk memaafkannya.
Rasa benci bercampur tangis ketika membuang semua pemberian darinya. Ku berlari kekamar sambil menahan bekas operasiku yang masih perih, tapi tak seberapa perih dibanding hati ini.
Air mata ini mengalir deras, ada rasa rindu disana tapi ku tahu, benci ku mampu mengalahkan rindu.
Tapi mereka yang diluar sana, tak pernah berhenti untuk meminta aku memaafkan ibuku. Dalam hati aku bersumpah, bahwa Ia tak kan mati sampai aku benar - benar bisa memaafkannya. Sakit.. Sakit.. Sakit..
Cuma itu yang bisa ku bilang.
Awal September kmarin, aku ikut kemping multikulture. Dari judulnya jelas, Camp Multiculture "Semua menjadi indah karna kau dan aku berbeda". Di camp itu membuat ku merenung, menangis dalam hati sambil tak hentinya mempertanyakanCuma itu yang bisa ku bilang.
"aku bisa menerima perbedaan diantara aku dan temanku, tapi kenapa tidak begitu dengan ibuku?"
Lebaran tahun ini, aku bisa mengucapkan dengan mudahnya kepada temanku
"Btw minal aidzin walfaidzin ya.. Mohon maap lahir n batin"
Mudah skali aku mengucapkannya, walau sekedar chatting. Tapi untuk ibuku, penuh dengan air mata dan rasa sakit hanya untuk sekedar mengetik sms. Sakit.
Hingga akhirnya aku tak jadi kirim sms.
Belum satu bulan berlalu dari Bulan Ramadhan, bulan yang aku bertemu dengan temanku lagi dan mengucapkan Selamat Idul Fitri. Aku didekatkan padanya. Semakin hari dekat dengannya membuatku semakin belajar, bagaimana memperlakukan orang. Bagaimana bisa menerima kekurangan dan kelebihan, bagaimana bisa bersabar menghadapi orang, bagaimana aku bisa mau mengerti. Semua yang aku pelajari darinya, aku sinkronasikan dengan relasiku dan ibuku yang saat ini memburuk lagi. Sudah 3 minggu aku tak dirumah.
Dia pernah mencoba menanyakan tentang hubunganku dan ibuku. Aku berfikir, dia pasti ingin tahu banyak tentang aku dan keluargaku, tapi dia menghentikannya begitu saja. Aku rasa dia juga tau kalau aku gampang terluka.
Tapi jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku mengenalnya, membuatku semakin belajar tentang arti keselarasan hidup, dan memaafkan ibuku.
Dan aku hampir gila karnanya..
Sebab itulah, sulit bagiku untuk menerima mu lagi..
Send from My Nokia E71 device with Axis World Service.


Reacties
Een reactie posten